SOPPENG Sigapnews.com Pemerintah Kabupaten Soppeng terus mematangkan persiapan program optimasi lahan non rawa tahun 2026. Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, secara resmi membuka kegiatan Review Hasil Survei Investigasi dan Desain (SID) Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026 di Ruang Pertemuan Gabungan Dinas, Watansoppeng, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan ini menjadi tahapan krusial untuk memastikan kesiapan teknis sebelum program dilaksanakan di lapangan, khususnya pada kawasan pertanian non rawa yang diarahkan meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman petani.
Dalam sambutannya, Suwardi Haseng menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Soppeng. Karena itu, dibutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan, penyediaan air irigasi, hingga sarana pascapanen.
Ketepatan data dan desain menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program pertanian daerah. Kami mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan non rawa agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional, ujar Suwardi.
Review SID ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang memaparkan hasil kajian teknis oleh tim LPPM Universitas Hasanuddin selaku penyusun desain program.
Berdasarkan data hasil SID, luas usulan awal program tercatat 6.256,51 hektare. Namun, setelah dilakukan delineasi lapangan, luas potensi lahan yang bisa dioptimalkan mencapai 8.315,58 hektare—bertambah sekitar 2.057,07 hektare. Program direncanakan mencakup delapan kecamatan, 45 desa dan 164 kelompok tani yang telah tersurvei.
Menariknya, hasil SID merekomendasikan bahwa sekitar 84 persen pekerjaan optimasi lahan non rawa tahun 2026 berupa pembangunan pompa dan sumur bor berbasis energi listrik. Hal ini sejalan dengan program prioritas Pemerintah Kabupaten Soppeng yaitu Listrik Masuk Sawah. Terdapat sekitar 533 titik sumur bor yang tersebar di delapan kecamatan yang dinilai menjadi potensi besar mempercepat realisasi program tersebut.
Mayoritas lokasi (140 lokasi atau 85,4 persen dari total survei) diarahkan untuk peningkatan indeks pertanaman (IP) menjadi 200.dua kali panen dalam setahun. Sumber air dominan berasal dari air tanah (sumur), dengan infrastruktur paling banyak direkomendasikan berupa pompa air dan jaringan irigasi air tanah (JIAT) pada 132 lokasi.
Selain itu review menemukan tujuh indikasi kelompok tani ganda yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut sebelum penetapan lokasi program.
Rekomendasi prioritas yang disampaikan antara lain:
.Percepatan pembangunan pompa air dan JIAT pada 132 lokasi.
· Penanganan 21 lokasi yang belum memiliki sumber air.
· Peningkatan sumber air pada 24 lokasi dengan IP masih 100 (satu kali panen per tahun).
· Verifikasi indikasi ketua kelompok tani ganda.
· Koordinasi dengan P3A dan GP3A terkait operasional dan pemeliharaan infrastruktur.
· Percepatan penetapan lokasi dan anggaran tahun 2026.
· Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pascakonstruksi secara berkala.
Melalui proses review ini, diharapkan program berjalan efektif, tepat sasaran, dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta indeks pertanaman petani secara berkelanjutan, ungkap Suwardi Haseng.
Kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Soppeng bersama LPPM Unhas ini dihadiri unsur pemerintah daerah, tim pengawas, penyuluh pertanian, serta tim LPPM Universitas Hasanuddin.
Pemerintah daerah berharap hasil review SID tersebut dapat menjadi acuan teknis yang kuat dalam pelaksanaan program optimasi lahan tahun 2026, guna mendukung peningkatan produksi pertanian dan swasembada pangan nasional
(Yund)

























FOLLOW THE SIGAPNEWS.COM AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow SIGAPNEWS.COM on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram